Rangkuman Life Span
Development Chapter 1-5
By : ANA RISKASARI
Chapter
1
1. Perspektif Masa Hidup
a. Pentingnya
Mempelajari Masa Hidup
Perkembangan merupakan
pola perubahan yg dimulai sejak masa pembuahan dan terus berlangsung selama
hidup manusia. Kajian mengenai perkembangan masa
b. Karakteristik
dan Perspektif Masa Hidup
Perspektif masa hidup
pandangan bahwa perkembangan berlangsung seumur hidup, multi dimensi, multi
arah, plastis, multi disiplin, dan kontekstual, melibatkan pertumbuhan,
pemeliharaan, dan regulasi, dan dibangun melalui kerjasama factor-faktor
biologis, sosiokultural, dan individual
c. Beberapa
Permasalahan Kontemporer
Beberapa persoalan
kontemporer yaitu tentang kesehatan dan kesejahteraan, pengasuhan dan
pendidikan, konteks dan keragaman sosio budaya.
2. Sifat-Sifat Perkembangan
a. Proses
Biologis, Kognitif, dan Sosioemosi
Proses biologis
mengasilkan perubahan yang berkaitan dengan sifat dasar fisik individu. Proses
kognitif merujuk pada perubahan pemikiran, intelegensi, dan bahasa dari individu.
Proses sosio emosi mencakup perubahan dalam relasi individu dengan orang lain,
perubahan emosi, dan perubahan kepribadian.
b. Periode
Perkembangan
Periode-periode
perkembangan yaitu periode prakelahiran (pembuahan hingga kelahiran), bayi
(kelahiran hingga 18-24 bulan), masa kanak-kanak awal (2-5 tahun), masa
kanak-kanak pertengahan dan akhir (6-11 tahun), masa remaja (10-12 hingga 18-21
tahun), masa dewasa awal (20-30 tahun), masa dewasa menengah (40-50 tahun),
masa dewasa akhir (60-70 hingga meninggal).
c. Pentingnya
Usia
Ketika
para peneliti mempelajari pernyataan ini, tidak ada jawaban konsisten yang
dapat disimpulkan. Beberapa studi terhadap orang dewasa menemukan bahwa
kebahagiaan meningkat seiring dengan usia (Rogers, 1982).konsepsi mengenai usia tidak hanya dibatasi sebagai
usia kronologis namun juga usia biologis, usia psikologis dan usia sosial
(Hoyer dan Roodin, 2009).
d. Isu-Isu
Perkembangan
Isu bawaan pengasuhan
merujuk pada debat mengenai apakah perkembangan dipengaruhi olehbawaan atau
pengasuhan. Isu stabilitas perubahan merujuk pada sejauh mana kita menrjemahkan
sesuatu berdasarkan pengaklaman awal. Isu kontinuitas-diskontinuitas berfokus
sejauh mana perkembangn terjadi secara bertahap dan melibatkan perubahan yang
berrsifat kumulatif (kontinuitas) atau( diskontinuitas).
3. Teori-Teori Perkembangan
a. Teori
Psikoanalitis
Teori Freud 5 tahap
perkembangan psikoseksual yaitu oral, anal, falik, laten, dan genital. Teori
Psikososisl Erik Erikson yaitu kepercayaan vs ketidakpercayaan otonomi vs malu
dan ragu-ragu, prakarsa vs rasa bersalah, semangat vs rendah diri, identitas vs
kebingungan, keakraban vs keterkucilan, generativitas vs stagnasi, integritas
vs keputusasaan.
b. Teori
Kognitif
Teori Piaget menyatakan
bahwa anak-anak secara aktif membangun pemahaman mereka mengenai dunia dan
melalui 4 tahap perkembangan kopnitif yaitu sensori motor, praoperasi, operasi
konkret, operasi formal. Teori Vygotsky teori koknisi sosio budaya yang
berfokus pada bagaimana budaya dan interaksi sosial mengarahkan perkembangan koknitif.
Teori pemrosesan informasi Robert, S, mengedepankan bahwa individu
memanipulasi, memonitor, menyusun strategi terhadap informasi yang ditemuinya.
c. Teori
Perilaku dan Kognitif Sosial
Skinner aspek penting
dari perkembangan adalah perilaku, bukan pikiran ataupun perasaan. Perubahan
perilaku diakibatkan oleh penghargaan dan hukuman. Teori kognitif sosial
Bandura menyatakan bahwa perilaku, lingkungan, dan kognisi merupakan
faktor-faktor penting dalam perkembangan.
d. Teori
Etologi
Lorenz menyebutkan
proses imprinting, proses belajar yang cepat dan naluriah yang melibatkan
kelekatan pada objek bergerak yang pertama kali dilihat. John Bowlby, kelekatan
akan berlangsung secara positif bisa juga negative.
e. Teori
Ekologi
U Bronfenbrenner,
mengembangkan teori ekologi, teorinya menekankan pentingnya dimensi mikro dan
makro dari lingkungan tempst hidup anak: mikro sistem, mesosistem, eksosistem,
makrosistem dan kronosistem.
f. Sebuah
Orientasi Teoritis Eklektik
Orientasi yang tidak
mengikuti hanya sebuah pendekatan teori, namun memilih segi segi yang dianggap
paling baik dari masing masing teori.
4. Penelitian dalam perkembangan masa hidup
a. Metode
metode pengumpulan data: observasi, studikasus, survey dan wawancara,
pengukuran fisiologis.
b. Desain
penelitian: deskriptif, korelasional dan eksperimental.
c. Rentang
waktu penelitian : pendekatan lintas bagian, dan pendekatan longitudinal .
d. Menyelenggarakan
penelitian yang etis : penelitian yang diusulkan ke universitas harus melalui
seleksi yang cermat dari komite etika penelitian sebelum penelitian itu
dimulai.
e. Meminimalkan
bias : bias gender, bias budaya dan etnik.
Chapter 2
A. Perspektif
Evolusioner
1. Seleksi
alam adalah proses evolusi yang menetapkan bahwa spesies-spesies yang paling
dapat menyesuaikan diri akan menjadi spesies yang dapat bertahan hidup dan
bereproduksi. Perilaku adaptif adalah perilaku yang mendukung kelangsungan
hidup organisme di habitat alam.
2. Psikologi
evolusioner mengedepankan pentingnya adaptasi, reproduksi, dan “survival of the fittest” dalam rangka
membentuk perilaku. Menurut pandangan ini seleksi alam akan mendorong perilaku
yang dapat meningkatkan keberhasilan reproduksi, kemampuan untuk mewariskan gen
gen anda sendirikepada generasi selanjutnya.
B. Landasan
Genetik dari Perkembangan
1. Gen
kolaboratif, setiap gen memiliki lokasinya sendiri-sendiri, masing-masing
lokasi merupakan tempat yang dirancang untuk kromosom tertentu. Genom manusia
berisi banyak gen yang berkolaborasi satu sama lain dan juga dengan
faktor-faktor nongenetik dari dalam dan luar tubuh manusia. Aktif atau tidaknya
sebuah gen, untuk bekerja mengahasilkan protein, juga ditentukan oleh
kolaborasinya. Aktivitas gen-gen dipengaruhi oleh lingkungan seperti cahaya ,
jumlah jam dalam sehari, gizi, dan peilaku.
2. Gen
dan kromosom
Gen adalah sebuah
segmen dari DNA. Sedangkan kromosom adalah struktur seperti benang yang
terletak di dalam nucleus dari sel.
3. Prinsip-prinsip
genetika
a. Prinsip
gen dominan-resesif, gen dominan mengalahkan pengaruh potensial dari gen
resesif. Gen resesif hanya menerapkan pengaruhnya apabila kedua gen dari satu
pasangan sama-sama resesif.
b. Gen
terkait jenis kelamin, laki-laki hanya memiliki sebuah kromosom X maka ketika
kromosom X itu terdapat gen termodifikasi dan pencetus penyakit, laki-laki
tidak memiliki kromosom X “cadangan” untuk mengatasi gen tersebut sehingga akan
terus mewariskan penyakit terkait kromosom X. Sementara perempuan memiliki
kromosom X kedua yang cenderung tidak berubah. Maka perempuan tidak cenderung
mengidap penyakit terkait kromosom X.
c. Imprinting
genetis, terjadi apabila gen-gen memiliki ekspresi yang berbeda, bergantung
pada apakah gen-gen itu diwariskan dari ibu atau dari ayah.
d. Pewarisan
poligenis, hanya sedikit karakteristik yang menceriminkan pengaruh dari sebuah
gen atau satu pasangan gen daja. Sebagian besar ditentukan melalui interkasi
dari berbagai gen; karakteristik seperti ini disebut sebagai ditentukan secara
poligenis.
4. Abnormalitas
kromosom dan abnormalitas terkait gen
Abnormalitas kromosom
terkait jenis kelamin terjadi apabila pada seorang bayi melibatkan kehadiran
sebuah kromosom ekstra (X atau Y) atau tidak adanya kromosm X pada perempuan.
Sedangkan abnormalitas terkait gen ada Fenilketonuria yaitu gangguan genetic
yang menyebabkan individu tidak dapat menjalankan metabolism asam amino secara
baik. Selain itu terdapat Anemia Sel Sabit yaitu gangguan yang memengaruhi
sel-sel darah merah dan paling sering muncul pada keturunan etnis Afrika.
C. Tantangan
dan Pilihan Reproduksi
1. Tes-tes
diagnostic prakelahiran
Terdapat sejumlah tes
yang adapt memperlihatkan apakah janin berkembang secara normal, seperti
ultrasound sonography, MRI janin, chorionic villus sampling, amniocentesis, tes
darah ibu (material blood screening) dan diagnosis prakelahiran noninvasive.
2. Infertilitas
dan tekhnologi reproduksi adopsi
Di Amerika Serikat
sekitar 10-15% pasangan mengalami infertilitas, yaitu ketidakmampuan memiliki
anak setelah 12 melakukan hubungan seks tanpa kontrasepsi. Akhirnya dipilih
teknik in vitro fertilization (IVF)
atau pembuahan in vitro penggabungan sperma dan telur di dalam cawan
laboratorium.
Adopsi adalah proses
sosial dan sah membentuk sebuah relasi orang tua-anak di antara orang-orang
yang tidak memiliki hubungan biologis.
D. Interaksi
Herediter-Lingkungan : Debat Mengenai Bawaan Pengasuhan
1. Genetika
perilaku, yaitu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha menemukan pengaruh
herediter dan lingkungan terhadap perbedaan sifat dab perkembangan yang terjadi
secara individual.
Kesulitan-kesulitan
yang dihadapi oleh para peneliti ketika menginterpretasikan hasil studi anak
kembar dan adopsi mencerminkan kompleksitas dari interaksi
herediter-lingkungan. Ada 3 kemungkinan korelasi antara hereditas dan
lingkungan :
a. Korelasi
genotip-lingkungan pasif, korelasi yang terjadi ketika orang tua kandung yang
memiliki hubungan genetic dengan anak, memberikan lingkungan pengasuhan
tertentu untuk anak
b. Korelasi
genotip-lingkungan evokatif, korelasi yang muncul jika genotip anak
membangkitkan jenis-jenis lingkungan tertentu.
c. Korelasi
genotip-lingkungan aktif (memasuki relung), korelasi yang terjadi ketika
anak-anak mencari/memilih lingkungan yang mereka rasakan sesuai dan menggugah
minat.
Pengalaman
lingkungan yag dialami bersama adalah pengalaman bersama di suatu lingkungan di
antara kakak beradik, antara lain kepribadian dan orientasi intelektual orang
tua, status sosial ekonomi orang tua, dan lingkungan rumah. Sebaliknya,
pengalaman lingkungan yang tidak dialami bersama adalah pengalaman anak yang
unik, di dalam ataupun di luar keluarga, yang tidak dibagi di antara kaka
beradik.
Chapter 3
1.
Perkembagan
Perkelahiran
a. Rangkaian
Perkembangan Prakelahiran
1) Periode
Germinal
Periode perkembangan
prakelahiran yang berlangsung pada dua minggu pertama setelah pembuahan.
Periode ini mencakup pembentukn zigot, pembelahan sel, dan pelekatan zigot ke
dinding rahim.
2) Periode
Embrionik
Periode perkembangan
prakelahiran yang berlangsung antara dua hingga delapan minggu setelah
pembuahan. Selama periode embrionik, kecepatan diferensiasi sel meningkat,
sistem pendukung bagian sel terbentuk, dan organ-organ mulai tampak.
3) Periode
Fetal
Periode perkembangan
prakelahiran yang dimulai pada dua bulan setelah pembuahan dan umumnya
berlangsung selama tujuh bulan. Selama periode ini, pertumbuhan dan
perkembangan melanjutkan rangkaian dramatisnya.
b. Teratologi
dan Risiko dalam Perkembangan Prakelahiran
1) Prinsip
Umum
Teratogen yaitu unsur
yang berpotensi mengakibatkan kelainan kelahiran atau secara negatif
menyebabkan perubahan kognitif dan perilaku. Dosis, kerentanan genetik, dan
lama paparan teratogen dapat memengaruhi tingkat dan jenis kerusakan yang
terjadi pada embrio dan janin.
2) Obat-obatan
Resep dan Tanpa Resep
Obat-obatan dengan
resep yang dapat berfungsi sebagai teratogen mencakup antibiotik, beberapa
jenis antidepresan, hormon-hormon tertentu, dan accutane (yang sering kali dipakai
untuk mengobati jerawat).
3) Obat-obatan
Psikoaktif
Obat-obatan psikoaktif
adalah obat-obatan yang bekerja pada sistem saraf untuk mengubah kondisi
kesadaran, memodifikasi persepsi, dan mengubah suasana hati. Contohnya adalah
kafein, alkohol, nikotin, ataupun obat-obatan ilegal seperti kokain, marijuana,
dan heroin.
4) Ketidakcocokan
Jenis Darah
Ketidakcocokan antara
jenis darah ibu dan jenis darah ayah juga dapat menimbulkan risiko untuk
perkembangan prakelahiran. Jenis darah dtentukan berdasarkan perbedaan struktur
permukaan sel-sel darah merah.
5) Bahaya
Lingkungan
Banyak aspek dunia
industri modern kita yang dapat membahayakan embrio atau janin. Beberapa bahaya
yang mungkin dialami bayi adalah radiasi, sampah beracun, dan polutan kimiawi
lainnya.
6) Penyakit
pada Ibu
Penyakit dan infeksi
pada ibu dapat mengakibatkan cacat pada keturunan karena penyakit atau infeksi
itu menembut batas ari-ari atau juga dapat mengakibatkan cacat ketika lahir.
Salah sau jenis penyakit yang dapat mengakibatkan cacat yaitu Rubella (cacar
air Jerman).
7) Faktor-faktor
Lainnya yang Terkait Orang Tua
Faktor ini mencakup
nutrisi, usia, serta kondisi emosional dan stres.
c. Perawatan
Prakelahiran
Biasanya perawatan
prakelahiran berupa kunjungan perawatan medis dengan jadwal yang jelas meliputi
pemeriksaan untuk kondisi ataupun penykit yang dapat ditangani, yang dapat
memengaruhi bayi atau ibu. Selain perawatan medis, program-program prakelahiran
seringkali melibatkan layanan pendidikan, sosial, dan gizi yang komprehensif.
d. Perkembangan
Prakelahiran yang Normal
Perkembangan
prakelahiran pada banyak kesempatan tidak megalami masalah dan perkembangan
berjalan menurut jalur yang positif.
2.
Kelahiran
a. Proses
Kelahiran
1) Tahap-tahap
Kelahiran
Proses
kelahiran berlangsung dalam tiga tahap:
a) Tahap
pertama
Dalam tahap pertama,
kntraksi rahim pada awalnya berlangsung dalam selang 15 hingga 20 menit dan
berlangsung selama satu menit. Kondisi ini mengakibatkan leher rahim merenggang
dan membuka. Tahap ini berlangsung selama 6 sampai 12 jam, pada kelahiran
selanjutnya tahap ini biasanya lebih pendek.
b) Tahap
Kedua
Tahap kedua kelahiran
dimulai ketika kepala bayi mulai bergerak melalui leher rahim dan saluran
kelahiran. Tahap ini biasanya berlangsung selama 45 menit hingga satu jam.
c) Tahap
Ketiga
Afterbirth adalah tahap
ketiga. Pada waktu ini, plaenta, tali pusar, dan selaput lainnya akan dilepas
dan dibuang. Tahap akhir ini adalah tahap yang paling singkat dari ketiga tahap
kelahiran, berlangsung hanya beberapa menit.
2) Setting
Kelahiran dan Bantuan
Orang-orang yang membantu
seorang ibu selama kelahiran dapat bervariasi antara budaya yang satu dan budya
lainnya.
a) Bidan
b) Doula
Doula adalah seorang
pengasuh yang terus memberikan dukungan fisik, emosional, dan pendidikan bagi
ibu sebelum, selama, dan setelah melahirkan anak.
3) Lingkungan
Kelahiran dan Bantuan
Rumah sakit A.S. sering
kali mengijinkan para ibu dan dokter
ahli kandungan memiliki sejumlah alternatif cara melahirkan. Alternatif
utama meliputi penggunaan obat-obatan dan kapan perlu menempuh bedah caesar.
4) Melahirkan
secara Caesar
Caesar dilakukan
apabila bayi dalam posisi sungsang. Dalam kelahiran caesar (caesar delivery), bayi diangkat dari rahim ibu melalui
pembedahan yang dilakukan di bagian perut ibunya.
b. Pemeriksaan
Bayi yang Baru Lahir
1) Skala
Apgar: Metode yang banyak digunakan untuk menilai kesehatan bayi di satu dan
lima menit setelah dilahirkan. Skala Apgar mengevaluasi laju detak jantung,
usaha bernapas, sifat otot, warna tubuh, dan kepekaan refleks bayi.
2) Brazelton
Neonatal Behavioral Assessment (NBAS): Tes yang diberikan 24 jam hingga 36 jam
setelah kelahiran, digunakan untuk mengukur perkembangan neurologis, refleks,
dn reaksi bayi terhadap objek dan orang lain.
3) Neonatal
Intensive Care Unit Network NeurobehavioralScale (NNNS): “Turunan” dari NBAS,
NNNS menghasilkan analisis lebih komprehensif mengenai perilaku, respon
neurologis dan stres, serta kapasitas regulatori dari bayi yang baru lahir.
c. Bayi
Prematur dan Bayi dengan Berat Badan Lahir yang Rendah
1) Bayi
Prematur dan Bayi Berukuran Kecil Menurut Waktu
a) Bayi
dengan berat badan lahir yang rendah: bayi yang lahir dengan berat badan kurang
dari 5,5 pon.
b) Bayi
lahir prematur: bayi yang lahir 35 minggu atau kuran gsetelah pembuahan.
c) Bayi
berukuran kecil menurut waktu: berat badan bayi kurang dari 90 persen
dibandingkan berat badan bayi lain denagn usia dalam kandungan yang sama.
2) Konsekuensi
dari Kelahiran Prematur dan Berat Badan Lahir Rendah
Hasil studi di Norwegia
menunjukkan baha semakin prematur kelahiran seorang bayi maka akan semakin
cenderung putus sekolah.
3) Perawatan
Bayi dengan Berat Badan Rendah dan Prematur
a) perawatan
kangguru: perawatan untuk bayi prematur yang mempraktikkan sentuhan kulit ke
kulit
b) terapi
pemijatan
3.
Periode
Pascakelahiran
Periode
setelah melahirkan anak ketika ibu menyesuaikan diri, secara fisik ataupun
psikologis, terhadap proses melahirkan anak. Periode ini berlangsung selama
enam minggu atau sampai tubuh ibu telah kembali
ke kondisi menyerupai sebelum kehamilan.
a. Penyesuaian
Fisik
Tubuh perempuan
melakukan banyak penyesuaian fisik di beberapa hari dan minggu pertama setelah
melahirkan anak.
b. Penyesuaian
Emosional dan Psikologis
Sekitar dua atau tiga
hari setelah melahirkan, biasanya ibu-ibu mulai merasa depresi, cemas, dan
bingung. Perasaan-perasaan ini dapat muncul dan hilang selama beberapa bulansetelah
melahirkan, seringkali mencapai puncaknya sekitar tiga hingga lim hari setelah
melahirkan. Perasaan ini biasanya akan hilang sendiri dalam satu atau dua
minggu meski tanpa penanganan khusus.
c. Ikatan
Ikatan, yakni pembentukan hubungan,
khususnya ikatan fisik antara orang tua dan bayi baru lahir dalam periode
setelah kelahiran.
Chapter 4
1.
Pertumbuhan
dan Perkembangan Fisik Bayi
a. Pola
Pertumbuhan
Seiring individu
berkembang dari masa bayi menuju masa dewasa, salah satu pertumbuhan fisik yang
terlihat paling jelas adalah ukuran kepala menjadi lebih kecil dibandingkan
dengan ukuran bagian-bagian tubuh lainnya.
b. Tinggi
dan Berat
Bayi bertumbuh
kira-kira 1 inci per bulan selama tahun pertama. Namun, pertumbuhan bayi
mengalami perlambatan selama tahun kedua kehidupannya.
c. Otak
Ketika lahir, berat
otak bayi kurang lebih 25 persen dari berat otak ketika dewasa. Pada ulang
tahun kedua, berat otaknya telah mencapai 75 persen dari berat otak dewasa.
Meskipun demikian, kematangan area-area otak tidak terjadi secara bersamaan.
d. Tidur
Ketika masih bayi, kita
tidur lebih banyak dibandingkan sekarang. Biasanya bayi baru lahir akan
membutuhkan waktu tidur sebanyak kira-kira 18 jam, namun demikian masing-masing
bayi akan sangat bervariasi waktu tidurnya.
e. Gizi
Selama 4 hingga 6 bulan
pertama kehidupan, ASI atau susu formula alternatif lainnya merupakan sumber
gizi dan energi untuk bayi. Selama bertahun-tahun, para ahli memperdebatkan
antara pemberian ASI kepada bayi lebih menuntungkan daripada susu formula.
Konsensus yang terus bertumbuh adalah bahwa pemberian ASI lebih baik untuk
kesehatan bayi.
2.
Perkembangan
Motorik
a. Pandangan
Sistem Dinamik
Menurut teori sistem
dinamik, bayi membangun berbagai keterampilan motorik untuk membentuk persepsi dan bertindak. Agar
dapat mengembangkan keterampilan motoric, bayi harus membentuk persepsi
mengenai sesuatu di lingkungannya yang dapat memotivasi dirinya untuk bertindak
dan menggunakan persepsinya itu untuk memperhalus gerakan-gerakannya.
Keterampilan motorik menjadi solusi terhadap tujuan diri bayi.
b. Refleks
Refleks merupakan
reaksi terhadap stimuli. Refleks mengatur gerakan-gerakan bayi secara otomatis
dan berada diluar kendalinya. Refleks memungkinkan bayi merespons secara
adaptif terhadap lingkungan sebelum ia memiliki kesempatan untuk belajar lebih
banyak.
c. Keterampilan
Motorik Kasar
Keterampilan motorik
kasar adalah keterampilan yang melibatkan aktivitas otot besar seperti
menggerakkan lengan dan berjalan.
d. Keterampilan
Motorik Halus
Para bayi dengan susah
payah harus mengontrol ketrampilan motorik halus ketika baru lahir. Dicapainya
kemampuan meraih dan menggenggam merupakan sebuah prestasi penting dalam
kemampuan bayi untuk berinteraksi dengan sekelilingnya.
3.
Perkembangan
Sensoris dan Persepsi
a. Apakah
Sensasi dan Persepsi itu?
Sensasi adalah produk dari interaksi Antara informasi
dan reseptor sensoris-mata, telinga, lidah, hidung, dan kulit. Persepsi adalah
interpretasi mengenai sesuatu yang diterima indra.
b. Pandangan
Ekologis
Pandangan bahwa
persepsi berperan memandu organisme dalam mengadakan kontak dengan linkungannya
dan untuk meningkatkan adaptasi.
c. Persepsi
Visual
Bayi baru lahir tidak
dapat melihat benda-benda kecil yang jauh. Bayi yang baru lahir mampu melihat
benda pada jarak 20 kaki sedangkan orang dewasa dapat melihat benda itu pada
jarak 240 kaki.
d. Indra-indra
Lainnya
Selama dua bulan
terakhir kehamilan, sambil mendekam Rahim, bayi dapat mendengar suara ibunya,
music, dan suara lain. Bayi baru lahir juga dapat merasakan sakit. Bayi-bayi
baru lahir mampu membedakan bau. Sensitivitas atau kepekaan terhadap rasa dapat
muncul sebelum sebelum kelahiran.
e. Persepsi
Menyeluruh
Kemampuan
mengintegrasikan informasi dari dua atau lebih modalitas sensoris, misalnya
dari penglihatan atau pendengaran.
f. Bawaan,
Pengasuhan, dan Perkembangan Persepsi
Akumulasi pengalaman
dan pengetahuan mengenai dunia persepsi bayi berkontribusi terhadap kemampuan
bayi untuk membentuk persepsi koheren mengenai orang dan benda-benda. Potret
menyeluruh dari perkembangan persepsi meliputi pengaruh bawaan, pengasuhan, dan
pengembangan sensitivitas terhadap informasi.
g. Kerjasama
Persepsi-Motorik
Anak-anak membentuk
persepsi agar dapat bergerak dan bergerak agar dapat membentuk persepsi.
Perkembangan persepsi dan motorik tidak berlangsung sendiri-sendiri, namun
merupakan suatu kerjasama.
Chapter
5
1.
Teori
Piaget mengenai Perkembangan Bayi
a. Proses
Kognitif
1) Skema
Dalam teori Piaget
merujuk pada berbagai tindakan atau representasi mental yang mengorganisasikan
pengetahuan
2) Asimilasi
Konsep Piaget yang
merujuk pada kegiatan memasukkan informasi baru kedalam skema-skema yang sudah
ada
3) Akomodasi
Konsep Piaget yang
merujuk pada penyesuaian skema-skema yang sudah ada agar cocok untuk mengolah
informasi-informasi dan pengalaman baru.
4) Organisasi
Konsep Piaget yang
merujuk pada pengelompokkan perilaku dan pemikiran yang terpisah satu sama lain
kedalam suatu system yang tigkatannya lebih tinggi.
5) Ekuilibrasi
Mekanisme yang diajukan
Pieget untuk menjalaskan bagaimana anak-anak beralih dari satu tahap berpikir
ketahap berpikir berikutnya.
b. Tahap
Perkembangan Sensorimotor
Tahap sensorimotor berlangsung mulai
dari kelahiran hingga usia dua tahun. Dalam tahap ini, bayi membangun suatu
pemahaman mengenal dunia dengan cara mengoordinasikan pengalaman sensori
(contohnya melihat atau mendengar) melalui tindakan fisik-motorik-oleh
karenanya disebut dengan sensorimotor. Piaget membagi tahap ini kedalam enam
subtahap sebagai berikut.
1.
Refleks
Sederhana
Tahap ini berhubungan
dengan satu bulan pertama setelah kelahiran. Dalam tahap ini, koordinasi
senssasi dan tindakan terutama berupa refleks. Bayi tidak lama kemudian
menampilkan perilaku yang menyerupai refleks tersebut tanpa adanya stimulus
yang memicunya. Contoh: bayi yang meletakkan bibirnya di dekat putting ibunya
cenderung akan menghisap-hisapnya.
2.
Kebiasaan Awal
dan Reaksi Sirkuler
Tahap ini berkembang di Antara usia 1
hingga 4 bulan. Dalam tahap ini bayi mengkoordinasi sensasi dan dua tipe skema
yaitu kebiasaan dan reaksi. Kebiasaan adalah skema yang didasarkan pada refleks
yang pada akhirnya akan menjadi reaksi yang sepenuhnya terpisah dari rangsangan
asli yang membangkitkan rangsangan itu. Sedangkan reaksi sekunder adalah
tindakan yang diulang-ulang. Contoh: seorang bayi yang sering menghisap puting
ibunya akan cenderung menghisap-hisap meskipun putting atau botol tidak berada
di dekatnya.
3.
Reaksi Sirkuler
Skunder
Tahap
ini berkembang Antara usia 4 hingga 8 bulan. Bayi lebih berorientasi pada
objek. Skema bayi belum bersifat sengaja, atau terarah pada sasaran, namun
diulang-ulang karena perasaan takjub. Contoh: bayi akan terus
mengguncang-guncangan mainan yang bergemerincing.
4.
Koordinasi
Reaksi Sirkuler Skunder
Tahap ini berkembang
diantara usia 8 hingga 12 bulan. Bayi mampu menkoordinasi penglihatan dan
sentuhan.dalam tahap ini terjadi perubahan-perubahan besar yang melibatkan
koordinasi skema-skema dan kesengajaan. Contoh: Bayi dapat menggunakan tongkat
untuk mengambil mainannya.
5.
Reaksi Sirkuler
Tersier, Kesenangan terhadap Hal Baru dan Keingintahuan
Tahap ini berkembang
diantara usia 12 hingga 18 bulan. Dalam tahap ini minat bayi semakin tergugah
terhadap berbagai karakteristik objek ataupun segala tindakan yang dapat mereka
lakukan terhadap objek tersebut. Contoh: Bayi dapat menjatuhkan, memutar, dan
menabrakkan suatu objek ke objek lainnya.
6.
Internalisasi
danSkema
Tahap
ini berlangsung Antara usia 18 hingga 24 bulan. Dalam tahap ini bayi
mengembangkan kemampuan untuk menggunakan symbol-simbol primitif. Simbol-simbol
primitif memungkinkan bayi untuk memikirkan peristiwa-peristiwa kongkret tanpa
harus melakukan atau melihatnya. Contoh: bayi dapat menirukan terbuka dan
tertutupnya suatu benda denga menggerakkan mulutnya.
c. Evaluasi
terhadap Tahap Perkembangan Sensorimotor Piaget
1. Kesalahan
A-Bukan-B
Kesalahan
A bukan B merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan kekeliruan bayi.
2. Perkembangan
Persepsi dan Harapan
Eleanor Gibson dan Elizabeth Spelke menyatakan bahwa kemampuan persepsi
bayi berkembang pesat diusia yang sangat dini dalam kehidupan. Bayi yang lebih
muda tidak mengembangkan harapan tertentu.
3. Isu
Bawaan-Pengasuhan
Sehubungan
dengan isu besar mengenai manakah diantara bawaan dan pengasuhan yang berperan
lebih besar dalam perkembangan bayi, Elizabeth Spelke jelas memihak kesisi
bawaan. Spelke mendukung pendekatan pengetahuan inti (coreknowladge approach)
yang menyatakan bahwa bayi terlahir dengan system pengetahuan spesifik-domain
(domain-spesific)
2.
Pembelajaran,
Mengingat, dan Konseptualisasi
a. Pengkondisian
Pengkodisian koperant
telah membantu peneliti dalam menentukan seperti apa persepsi bayi (Huatanabe
dan Taga, 2006). Sebagai contoh, bayi akan menghisap dot lebih cepat apabila
perilaku menghisap tersebut diikuti tayangan visual, musik atau suara manusia
(Rovee, 1987).
b. Atensi
Yaitu usaha memfokuskan
sumber-sumber daya mental untuk menseleksi informasi, akan meningkatkan
pemrosesan kognitif terhadap berbagai tugas. Atensi bersama, proses yang muncul
ketika lebih dari satu individu berfokus ke objek yang sama dan terdapat
kemampuan trekking perilaku diantara individu-individu tersebut, salah satu
individu mengarahkan individu lain dan interaksi resipi local.
c. Memori
Memori adalah
karakteristik inti dari perkembangan kognitif, mengandung semua peristiwa yang
diingat oleh individu seiring dengan berjalannya waktu. Ada dua jenis memori,
yaitu memori implisit artinya memori yang tidak disertai ingatan sadar-memori
mengenai keterampilan dan prosedur rutin yang dilakukan secara otomatis. Memori
eksplisit, merujuk mengenai fakta dan pengalaman yang diketahui secara sadar
dan mampu dinyatakan oleh individu
d. Meniru
Andre Meltzoff telah
melakukan banyak studi mengenai kemampuan meniru oleh bayi. Ia berpendapat
bahwa kemampuan meniru memiliki dasar biologis, akarena bayi dapat menirukan
ekspresi wajah pada beberapa hari pertama setelah kelahiran. Meltzoff berkesimpulan
bahwa bayi tidak begitu saja meniru semua yang dilihatnya dan seringkali
menunjukkan kesalahan kreatif. Ia juga telah mempelajari peniruan yang
tertunda, yaitu peniruan yang terjadi setelah jeda waktu berjam-jam atau
berhari-hari.
e. Pembentukan
Konsep dan Kategorisasi
Kategori adalah
pengelompokkan objek, peristiwa, dan karakteristik berdasarkan sifat umum.
Konsep adalah gagasan mengenai hal-hal yang disajikan oleh kategori atau
kumpulan segala sesuatu yang dianggap sebagai anggota dari kategori tertentu.
Bayi membentuk konsep-konsep dan mengorganisasikan dunianya menjadi
bidang-bidang konseptual yang akan menjadi tulang punggung pemikirannya selama
kehidupan.
3.
Perbedaan
Individual dan Pengukuran
a. Ukuran
Perkembangan Bayi
Ble Scales of Infant
Development, skala yang dikebangkan oleh Nensibayley, yang secara luas
digunakan untuk mengukur perkembangan bayi. Versi terkininya memiliki lima
skala: kognitif, Bahasa, motoric, sosio-emosional, dan adaptif. Munculnya
berbagai minat selama masa perkembangan bayi telah menyebabkan munculnya
berbagai pengukuran baru.
b. Memprediksikan
Inteligensi
Sebuah studi baru-baru
ini mengungkapkan bahwa habituasi yang diukur pada usia tiga atau enam bulan
ternyata berkaitan dengan keterampilan verbal dan intelegasi yang diukur di
usia 32 bulan (Domsch, 2009). Meskipun demikian, kita tidak boleh terlalu jauh
dan jangan menganggap bawa terdapat kaitan yang sangat ketantara perkembangan
kognitif di masa bayi awal dengan perkembanga
kognitif di masa selanjutnya, sehingga kita mneyimpulkan bahwa sama
sekali tidak ada dikontinuitas.
4.
Perkembangan
Bahasa
a. Mendefinisikan
Bahasa
Bahasa adalah suatu
bentuk komunikasi baik yang diucapkan, ditulis, atau diisyaratkan yang
didasarkan pada sebuah system symbol. Generativitas tak berhingga merupakan
kemampuan menghasilkan kalimat-kalimat bermakna yang jumlahnya tidak terbatas
dengan menggunakan serangkaian kata dan ketentuan yang terbatas.
b. Sistem-sistem
Aturan Berbahas
1.) Studi
mengenai system bunyi Bahasa, mencakup bunyi-bunyi yang biasa digunakan beserta
kombinasinya
2.) Morfologi,
yaitu unit-unit makna yang terlibat dala pembentukkan kata
3.) Sintaksis,
yaitu cara mengkombinasikan kata-kata untuk membentuk frasa berkalimat yang
masuk akal
4.) Sematik,
yaitu makna dari kata-kata atau kalimat
5.) Pragmatik,
yaitu penggunaan Bahasa sesuai konteks yang berbeda-beda.
c. Bagaimana
Bahsa Berkembang
1.) Mengenal
Bunyi Bahasa
Bayi harus mencermati
setiap kata satu per satu, ddari rentetan bunyi dalm percakaan sehari-hari.
Mereka harus menemukan batasan diatara kata-kata, sebuah tugas yang sulit bagi
bayi karena orang dewasa tidak benar-benar berhenti diantara kata-kata yang
diucapkannya. Bayi mulali mendeteksi batasan kata di usia8 bulan
2.) Celotehan
dan Vokalisasi lain
Selama satu tahun
pertama kehidupan bayi, mereka mampu mebuat bunyi melalui urutan: menangis,
mendekut, celoteh, seperti “ba ba ba”.
3.) Bahasa
Tubuh
Bayi mulai menggunakan
Bahasa tubuh, seperti memperlihatkan atau menunjuk kea rah sesuatu, disekitar
usia delapan hingga dua belas bulan.
4.) Kata-kata
Pertama
Anak-anak telah memahami
kata-kata pertama ereka sebelum mampu mengucapkannya. Sejak usia lima bulan,
bayi telah mengenali namanya sendiri. Bayi memahami sekitar 50 kata di usi 13
bulan.
5.) Ungkapan
2 kata
Ketika berusia 18-24
bulan, anak-anak biasanya mengucapkan ungkapan yang terdiri dari dua kata.
Mereka mengandalkan Bahasa tubuh, nada, dan konteks.
d. Pengaruh
Faktor Biologis dan Lingkungan
1. Pengaruh
Faktor Biologis
a.) Area
Broca, adalah daerah di lobus frontal kiri yang terlibat dalam pemrosesan
kata-kata.
b.) Area
Wernicke, daerah di hemisfer kiri otak yang terlibat dalam pemahaman Bahasa
c.) Aphasya,
Kehilangan atau kerusakan kemampuan berbahasa karena kerusakan otak.
d.) Language
acquisition device, istilah Chomsky yang mendeskripsikan suatu perlengkapan
biologis yang memungkinkan anak untuk mendekteksi ciri dan ketentuan Bahasa
mencakup fonologi sintaksis dan sematik.
2. Pengaruh
Faktor Lingkungan
Para peneliti menemukan
bahwa perkembangan kosa kata anak berasal dari interaksinya terhadap
lingkungan. Kosa kata anak juga memiliki kaitan dengan status sosio-ekonomi
keluarga
e. Pandangan
Ahli Interaksi
Pandangan ahli
interaksi menekankan biologi dan pengalaman sam-sama berkontribusi terhadap
perkembangan Bahasa. Hingga saat ini para ahli Bahasa dan psikolog masih
mendebatkan mengenai seberapa jauh Bahasa ditentukan dengan cara biologis
ataupun dengan interaksi bersama orang lain . meskipun demikian mereka semua
sepakat bahwa kapasitas biologis dan pengalaman yang relevan merupakan hal yang
perlu. (Berco Gleason, 2009).