GuidePedia

0



KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN IPA YANG DIINTEGRASIKAN DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU MI/SD


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas individu
Mata Kuliah: Pembelajaran Tematik
Dosen Pengampu: Dr. Andi Prastowo, M.Pd.I; Sigit Prasetyo, M.Pd.Si; Fitri Yuliawati, M.Pd.Si





 
  
Disusun oleh:
Ana Riskasari (15480089)
Sem. IV/PGMI A



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2017



KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN IPA YANG DIINTEGRASIKAN DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU MI/SD
Disusun oleh: Ana Riskasari

ABSTRAK

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang mempelajari semua hal yang berkaitan dengan alam dan segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini. Ilmu Pengetahuan Alam dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam sebagai produk, proses, dan sikap. Mata pelajaran IPA di SD dan Madrasah Ibtidaiyah berfungsi untuk menguasai konsep dan manfaat Sains dalam kehidupan sehari-hari dan berfungsi untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di SD/MI kelas I, II, dan III mata pelajaran IPA diintegrasikan dengan mata pelajaran lain sedangkan untuk kelas IV, V, dan VI beralokasi waktu masing-masing 3 jam setiap minggu. Satu jam pelajaran beban belajar tatap muka SD/MI adalah 35 menit. Ruang lingkupnya meliputi hidup dan proses kehidupannya, sifat-sifat dan kegunaan benda/materi, energi dan perubahannya, serta bumi dan alam semesta.
Kata kunci : IPA, Alokasi, Materi, Kompetensi

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Pengantar

Ilmu Pengetahuan Alam, yang sering disebut juga dengan istilah sains, disingkat menjadi IPA. IPA merupakan salah satu mata pelajaran pokok dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, termasuk pada jenjang sekolah dasar. Mata pelajaran IPA merupakan mata pelajaran yang selama ini dianggap sulit oleh sebagian besar peserta didik, mulai dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Anggapan sebagia peserta didik yang menyatakan bahwa pelajaran IPPA ini sulit adalah benar terbukti dari hasil perolehan Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang dilaporkan oleh Depdiknas masih sangat jauh dari standar yang diharapkan. Ironisnya, justru semakin tinggi jenjang pendidikan, maka perolehan rata-rata nilai UAS Pendidikan IPA ini menjadi semakin rendah. Sehingga dalam hal ini untuk mengatasi permasalahan tersebut para guru diharapkan mengetahui dan mengerti hakikat pembelajaran IPA, sehingga dalam pembelajaran IPA guru tidak kesulitan dalam mendesain dan melaksanakan pembelajaran. Siswa yang melakukan pembelajaran juga tidak mendapatkan kesulitan dalam memahami konsep sains.

B.     Latar Belakang

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusiamelalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.

Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientificinquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.

C.    Rumusan Masalah

1.      Bagaimana Substansi IPA untuk SD/ MI?

2.      Apa Fungsi dan Kegunaan IPA untuk SD/ MI?

3.      Bagaimana Alokasi Waktu IPA untuk untuk SD/ MI?

4.      Bagamaina Cakupan Materi IPA untuk SD/ MI?

5.      Bagaimana Kompetensi IPA Yang Mendukung Pencapaian Kompetensi Lulusan SD/ MI?





D.    Kerangka Teori

IPA merupakan kumpulan pengetahuan yang diperoleh tidak hanya produk saja tetapi juga mencakup pengetahuan seperti keterampilan dalam hal melaksanakan  penyelidikan  ilmiah.  Proses  ilmiah  yang  dimaksud  misalnya  melalui  pengamatan, eksperimen,  dan  analisis  yang bersifat rasional.[1]  Sedang  sikap  ilmiah  misalnya objektif  dan  jujur  dalam  mengumpulkan  data yang  diperoleh.

Pengertian IPA menurut beberapa ahli diantaranya, Fowler menyatakan IPA adalah “Ilmu yang sistematis dan di rumuskan, ilmu ini berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan terutama di dasarkan atas pengamatan dan induksi”.[2] Menurut Nash IPA adalah “ Suatu cara atau metode untuk mengamati alam yang bersifat analisi , lengkap cermat serta menghubungkan antara fenomena lain sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang di amati”.[3] Sedangkan menurut Nokes IPA adalah “Pengetahuan teoritis yang di peroleh dengan metode khusus”.[4]

Dari pendapat diatas dapat diartikan IPA adalah teoritis diperoleh dengan metode khusus untuk mendapatkan suatu konsep berdasarkan hasil observasi dan eksperimen tentang gejala alam dan berusaha mengembangkan rasa ingin tahu tentang alam serta berperan dalam memecahkan menjaga dan melestarikan lingkungan.

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Karakteristik sangat dipengaruhi oleh sifat keilmuan yang terkandung pada masing-masing mata pelajaran. Perbedaan karakteristik pada berbagai mata pelajaran akan menimbulkan perbedaan cara mengajar dan cara siswa belajar antar mata pelajaran satu dengan yang lainnya. IPA memiliki karakteristik tersendiri untuk membedakan dengan mata pelajaran lain.

Harlen menyatakan bahwa ada tiga karakteristik utama Sains yakni[5]: Pertama, memandang bahwa setiap orang mempunyai kewenangan untuk menguji validitas (kesahihan) prinsip dan teori ilmiah meskipun kelihatannya logis dan dapat dijelaskan secara hipotesis. Teori dan prinsip hanya berguna jika sesuai dengan kenyataan yang ada. Kedua, memberi pengertian adanya hubungan antara fakta-fakta yang diobservasi yang memungkinkan penyusunan prediksi sebelum sampai pada kesimpulan. Teori yang disusun harus didukung oleh fakta-fakta dan data yang teruji kebenarannya. Ketiga, memberi makna bahwa teori Sains bukanlah kebenaran yang akhir tetapi akan berubah atas dasar perangkat pendukung teori tersebut. Hal ini memberi penekanan pada kreativitas dan gagasan tentang perubahan yang telah lalu dan kemungkinan perubahan di masa depan, serta pengertian tentang perubahan itu sendiri.



BAB II

PEMBAHASAN

A.    Substansi IPA untuk SD/ MI

IPA merupakan mata pelajaran yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di  alam. Pelajaran  IPA  di  SD/ MI  memuat  materi  tentang  pengetahuan-pengetahuan alam yang dekat dengan kehidupan siswa SD/ MI. Siswa diharapkan dapat mengenal  dan  mengetahui  pengetahuan-pengetahuan  alam  tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang berarti sebuah ilmu yang mempelajari semua hal yang berkaitan dengan alam dan segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini. Menurut Usman Samatowa secara umum IPA dipahami sebagai ilmu yang lahir dan berkembang lewat langkah-langkah observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan, serta penemuan teori dan konsep.[6] Ahmad Susanto mengatakan bahwa IPA adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat pada sasaran, serta menggunakan prosedur, dan dijelaskan dengan penalaran sehingga mendapatkan suatu kesimpulan.[7]  Sedangkan menurut Sukarno dalam Asih Widi dan Eka Sulistyowati IPA diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang sebab dan akibat kejadian-kejadian yang ada di alam ini.[8]

Dari definisi-definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, akan tetapi IPA juga merupakan suatu proses penemuan. Dengan adanya penemuan-penemuan dalam pembelajaran IPA maka semua kejadian-kejadian yang ada di alam ini akan ditemukan sebab dan akibatnya.  

Proses pembelajaran IPA dilakukan tidak hanya dengan pemberian materi pelajaran secara verbal saja akan tetapi harus ada proses penemuan yang dilakukan dengan metode ilmiah dan sikap yang ilmiah. Menurut Martiono pembelajaran IPA sebaiknya dilakukan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup.[9] Pembelajaran IPA melalui proses penemuan (inquiry) dapat melatih keterampilan berpikir siswa agar siswa dapat memahami sebuah konsep pembelajaran dengan optimal dan siswa juga dapat mengetahui manfaat dari konsep yang dipelajarinya sehingga siswa dapat menggunakan konsep yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.

Proses pembelajaran IPA selain dilaksanakan secara proses penemuan juga menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi peserta didik agar dapat menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Proses pembelajaran IPA yang dilakukan dengan proses penemuan dan pemberian pengalaman langsung bertujuan untuk membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

IPA merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang diberikan di setiap jenjang pendidikan formal, khususnya di SD. Ada alasan mengapa mata pelajaran IPA penting diajarkan di SD, Trianto menggolongkan alasan tersebut menjadi 4, yaitu[10]:

1.    Bahwa IPA berfaedah bagi suatu bangsa.

2.    Bila IPA diajarkan melalui cara yang tepat, maka IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis.

3.    Bila IPA diajarkan melalui percobaan-percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak, maka IPA tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hapalan belaka.

4.    Mata pelajaran ini mempunyai nilai-nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan.

Hakikat pembelajaran sains atau Ilmu Pengetahuan Alam dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam sebagai produk, proses, dan sikap. Dari ketiga komponen IPA ini, Sutrisno (2007) menambahkan bahwa IPA juga sebagai prosedur dan IPA sebagai teknologi.[11]

Pertama, Ilmu Pengetahuan Alam sebagai produk, yaitu kumpulan hasil penelitian yang telah ilmuan lakukan dan sudah membentuk konsep yang telah dikaji sebagai kegiatan empiris dan kegiatan analitis. Bentuk IPA sebagai produk, antara lain : fakta-fakta, prinsip, hukum, dan teori-teori IPA. Kedua, ilmu pengetahuan alam sebagai proses, yaitu untuk menggali dan memahami pengetahuan tentang alam. Karena IPA merupakan kumpulan fakta dan konsep, maka IPA membutuhkan proses dalam menemukan fakta dan teori yang akan digeneralisasi oleh ilmuwan. Adapun proses dalam memahami proses IPA disebut dengan keterampilan proses sains (science process skills) adalah keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuwan, seperti mengamati, mengukur, mengklasifikasikan, dan menyimpulkan. Ketiga, ilmu pengetahuan alam sebagai sikap. Sikap ilmiah harus dikembangkan dalam pembelajaran sains. Hal ini sesuai dengan sikap yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan dalam melakukan penelitian dan mengkomunikasikan hasil penelitiannya. Menurut Sulistyorini (2006), ada Sembilan aspek yang dikembangkan dari sikap ilmiah di pembelajaran sains, yaitu : sikap ingin tahu, ingin mendapat sesuatu yang baru, sikap kerjasama, tidak putus asa, tidak berprasangka, mawas diri, bertanggungjawab, berpikir bebas, dan kedisiplinan diri.

B.     Fungsi, Kegunaan  dan Tujuan IPA untuk SD/ MI

Mata pelajaran IPA di SD dan Madrasah Ibtidaiyah berfungsi untuk menguasai konsep dan manfaat Sains dalam kehidupan sehari-hari dan berfungsi untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.[12]

Adapun secara rinci fungsi mata pelajaran IPA dijelaskan dalam Sumaji antara lain ialah[13]:

1.      Memberi bekal pengetahuan dasar, baik untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupn untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,

2.      Mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep IPA,

3.      Menanamkan sikap ilmiah dan melatih siswa dalam menggunakan metode ilmiah untuk memecahkan masalah yang dihadapinya,

4.      Menyadarkan siswa akan keteraturan alam dan segala keindahanya sehingga siswa terdorong untuk mencintai dan mengagungkan Pencipta-Nya,

5.      Memupuk daya kreatif dan inovatif siswa,

6.      Membantu siswa memahami gagasan atau informasi baru dalam bidang IPTEK,

7.      Memupuk serta mengembangkan minat siswa terhadap IPA.

Setiap mata pelajaran yang dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah pasti memiliki sebuah tujuan pembelajaran. setiap jenjang pendidikan formal meiliki penekanan yang berbeda-beda. Menurut Muslichach Asy’ari tujuan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar adalah[14]:

1.    Menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positif terhadap ilmu pengetahuan alam, teknologi dan masyarakat.

2.    Mengembangkan keteramilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

3.    Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

4.    Ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.

5.    Menghargai alam sekitar dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.

Mata pelajaran IPA SD/MI menurut Depdiknas betujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut[15] :

1.    Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya;

2.    Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari;

3.    Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat;

4.    Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan;

5.    Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam;

6.    Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan;

7.    Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.



C.    Alokasi Waktu IPA untuk untuk SD/ MI



Tabel Struktur Kurikulum SD/MI[16]



MATA PELAJARAN
ALOKASI WAKTU PER MINGGU
I
II
III
IV
V
VI
Kelompok A (Umum)

1.
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
4
4
4
4
4
4
2.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran
5
5
6
5
5
5
3.
Bahasa Indonesia
8
9
10
7
7
7
4.
Matematika
5
6
6
6
6
6
5.
Ilmu Pengetahuan Alam
-
-
-
3
3
3
6.
Ilmu Pengetahuan Sosial
-
-
-
3
3
3
Kelompok B (Umum)

1.
Seni Budaya dan Prakarya
4
4
4
4
4
4
2.
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
4
4
4
4
4
4
Jumlah jam pelajaran per minggu
30
32
34
36
36
36



              Mata pelajaran Kelompok A yang meliputi mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran,  Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat.

              Sedangkan Mata pelajaran Kelompok B yang meliputi mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan/konten lokal.Mata pelajaran Kelompok B ini dapat berupa mata pelajaran muatan lokal yang berdiri sendiri. Muatan lokal dapat memuat Bahasa Daerah.

              Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa integrasi Kompetensi Dasar IPA dan IPS didasarkan pada keterdekatan makna dari konten Kompetensi Dasar IPA dan IPS dengan konten Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang berlaku untuk kelas I, II, dan III. Sedangkan untuk kelas IV, V dan VI, Kompetensi Dasar IPA dan IPS berdiri sendiri dan kemudian diintegrasikan ke dalam tema-tema yang ada untuk kelas IV, V dan VI.

              Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. Beban belajar di SD/MI kelas I, II, dan III masing-masing 30, 32, 34 sedangkan untuk kelas IV, V, dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. Satu jam pelajaran beban belajar tatap muka SD/MI adalah 35 menit.



D.    Cakupan Materi IPA untuk SD/ MI

Ruang lingkup IPA adalah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan yang ada di lingkungan sekitar, mulai dari fenomena alam sampai gejala terbentuknya suatu benda. Ruang lingkup Mata Pelajaran IPA SD/MI menurut Depdiknas secara garis besar terinci menjadi empat (4) kelompok yaitu[17]:

1.    Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan;

2.    Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat, dan gas;

3.    Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana;

4.    Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.

Keempat kelompok bahan kajian IPA SD/MI tersebut disajikan secara spiral, artinya setiap bahan kajian disajikan di semua tingkat kelas tetapi dengan tingkat kedalaman yang berbeda; semakin tinggi tingkat kelas semakin dalam bahasannya.

Menurut pendapat Sri (2007: 40) Ruang lingkup pembelajaran IPA adalah sebagai berikut : (a) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan. Benda materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi : cair, padat, gas, (b) Energi dan perubahannya meliputi : gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana, (c) Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan bendabenda langit lainnya.[18]

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup IPA untuk SD/MI adalah makhluk hidup dan proses kehidupannya, sifat-sifat dan kegunaan benda/materi, energi dan perubahannya, serta bumi dan alam semesta.

E.     Kompetensi IPA Yang Mendukung Pencapaian Kompetensi Lulusan SD/ MI

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang tersurat dalam standar isi merupakan batas minimal yang harus dicapai peserta didik dalam proses belajarnya. Artinya pesan yang tersurat dalam SK dan KD tersebut tidak dapat ditawar lagi oleh guru dalam hal penyajiannya di kelas maupun di luar kelas. Hal tersebut mempunyai implikasi terhadap kompetensi guru. Jika guru merasa kurang kompeten dalam SK dan atau/ KD tertentu maka wajib mempelajarinya. Hal tersebut perlu dilakukan agar dapat memfasilitsi belajar siswa secara maksimal, jangan sampai dilewati untuk tidak dibelajarkan. Setiap SK dan KD perlu dimaknai dulu secara tepat, sebelum dijabarkan menjadi indikator dan tujuan pembelajaran, agar pesan edukatif dari SK dan KD tersebut dapat tercapai.

Berikut ini merupakan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Ilmu Pengetahuan Alam SD/ MI di Kelas VI, V, dan VI.[19]

1.      KELAS IV

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual, yaitu “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)
KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia





KOMPETENSI DASAR
KOMPETENSI DASAR
3.1 Menganalisis hubungan antara bentuk dan fungsi bagian tubuh pada hewan dan tumbuhan
4.1 Menyajikan laporan hasil pengamatan tentang bentuk dan fungsi bagian tubuh hewan dan tumbuhan
3.2 Membandingkan siklus hidup beberapa jenis makhluk hidup serta mengaitkan dengan upaya pelestariannya
4.2 Membuat skema siklus hidup beberapa jenis mahluk hidup yang ada di lingkungan sekitarnya, dan slogan upaya pelestariannya
3.3 Mengidentifikasi macam-macam gaya, antara lain: gaya otot, gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, dan gaya gesekan
4.3 Mendemonstrasikan manfaat gaya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya gaya otot, gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, dan gaya gesekan
3.4 Menghubungkan gaya dengan gerak pada peristiwa di lingkungan sekitar
4.4 Menyajikan hasil percobaan tentang hubungan antara gaya dan gerak
3.5 Mengidentifikasi berbagai sumber energi, perubahan bentuk energi, dan sumber energi alternatif (angin, air, matahari, panas bumi, bahan bakar organik, dan nuklir) dalam kehidupan sehari-hari
4.5 Menyajikan laporan hasil pengamatan dan penelusuran informasi tentang berbagai perubahan bentuk energi







2.      KELAS V

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)
KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)
3. Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati, menanya dan mencoba berdasarkan rasa ingin tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain
4. Menyajikan pengetahuan faktual dan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia







KOMPETENSI DASAR
KOMPETENSI DASAR
3.1 Menjelaskan alat gerak dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan alat gerak manusia
4.1 Membuat model sederhana alat gerak manusia atau hewan
3.2 Menjelaskan organ pernafasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia
4.2 Membuat model sederhana organ pernapasan manusia
3.3 Menjelaskan organ pencernaan dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan organ pencernaan manusia
4.3 Menyajikan karya tentang konsep organ dan fungsi pencernaan pada hewan atau manusia.
3.4 Menjelaskan organ peredaran darah dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan organ peredaran darah manusia
4.4 Menyajikan karya tentang organ peredaran darah pada manusia
3.5 Menganalisis hubungan antar komponen ekosistem dan jaring-jaring makanan di lingkungan sekitar
4.5 Membuat karya tentang konsep jaring-jaring makanan dalam suatu ekosistem



3.      KELAS VI

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)
KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)
3. Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati, menanya dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain
4. Menyajikan pengetahuan faktual dan konseptual dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia



KOMPETENSI DASAR
KOMPETENSI DASAR
3.1 Membandingkan cara perkembangbiakan tumbuhan dan hewan
4.1 Menyajikan karya tentang perkembangangbiakan tumbuhan
3.2 Menghubungkan ciri pubertas pada laki-laki dan perempuan dengan kesehatan reproduksi
4.2 Menyajikan karya tentang cara menyikapi ciri-ciri pubertas yang dialami
3.3 Menganalisis cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan
4.3 Menyajikan karya tentang cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sebagai hasil penelusuran berbagai sumber
3.4 Mengidentifikasi komponen-komponen listrik dan fungsinya dalam rangkaian listrik sederhana
4.4 Melakukan percobaan rangkaian listrik sederhana secara seri dan paralel
3.5 Mengidentifikasi sifat-sifat magnet dalam kehidupan sehari-hari
4.5 Membuat laporan hasil percobaan tentang sifat-sifat magnet dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
3.6 Menjelaskan cara menghasilkan, menyalurkan, dan menghemat energi listrik
4.6 Menyajikan karya tentang berbagai cara melakukan penghematan energi dan usulan sumber alternatif energi listrik





BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang berarti sebuah ilmu yang mempelajari semua hal yang berkaitan dengan alam dan segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini. Hakikat pembelajaran sains atau Ilmu Pengetahuan Alam dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam sebagai produk, proses, dan sikap. Mata pelajaran IPA di SD dan Madrasah Ibtidaiyah berfungsi untuk menguasai konsep dan manfaat Sains dalam kehidupan sehari-hari dan berfungsi untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di SD/MI kelas I, II, dan III mata pelajaran IPA diintegrasikan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan sedangkan untuk kelas IV, V, dan VI beralokasi waktu masing-masing 3 jam setiap minggu. Satu jam pelajaran beban belajar tatap muka SD/MI adalah 35 menit. Dengan cakupan materinya sebagai berikut; makhluk hidup dan proses kehidupannya, sifat-sifat dan kegunaan benda/materi, energi dan perubahannya, serta bumi dan alam semesta. Dari kesemuanya itu, terkait dengan setiap SK dan KD perlu dimaknai dulu secara tepat, sebelum dijabarkan menjadi indikator dan tujuan pembelajaran, agar pesan edukatif dari SK dan KD mata pelajaran IPA tersebut dapat tercapai.











DAFTAR PUSTAKA

 
Ali, Abdullah. 2003. Ilmu Alamiah Dasar.Jakarta : PT Bumi Aksara
 
Asyari, Muslichah. 2006. Penerapan Sains Teknologi Masyarakat Dalam Pembelajaran Sains di SD. Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Ketenagaan. 
 
Asyari, Muslichah. 2006. Penerapan Sains Teknologi Masyarakat Dalam Pembelajaran Sains di SD. Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Ketenagaan
 
Bundu, Patta, 2006. Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah dalam Pembelajaran Sains di SD. Jakarta : Depdiknas
 
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standart Kompetensi. Jakarta: Puskur. Dit. PTKSD
 
Dewiki, Santi dan Sri Yuniati.2006. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta : Depdiknas
 
Husaini, Usman. 2006. Manajemen-teori, praktik dan riset pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta
 
Martiyono. 2012. Perencanaan Pembelajaran. Yogyakarta: Aswajaya Pressindo
 
Permendikbud No. 57/2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah.
 
Samatowa, Usman. 2011. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Indeks
 
Sulistyanto, Heri dkk. 2008. Ilmu pengetahuan Alam. Jakarta : Pusat Perbukuan Depdiknas 
 
Sulistyorini, Sri. 2007. Model Pembelajaran IPA Sekolah Dasar dan Penerapannya dalam KSTP. Yogyakarta: Tiara Wacana
 
Sumaji, Soehakso, Mangun Wijaya, dkk. (1998). Pendidikan Sains yang Humanistis. Yogyakarta: Kanisus
 
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana
 
Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara
 
Wisudawati , Asih Widi dan Eka Sulistyowati. 2014. Metodologi Pembelajaran IPA. Jakarta: Bumi Aksara




[1] Heri Sulistyanto, dkk. 2008. Ilmu pengetahuan Alam. Jakarta : Pusat Perbukuan Depdiknas. Hal.7

[2] Santi Dewiki dan Sri Yuniati.2006. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta : Depdiknas. Hlm. 29

[3] Usman, Husaini. (2006). Manajemen-teori, praktik dan riset pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta. Hlm. 2

[4] Abdullah Ali. 2003. Ilmu Alamiah Dasar.Jakarta : PT Bumi Aksara. Hlm. 18

[5]Patta, Bundu (2006). Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah dalam Pembelajaran Sains di SD. Jakarta : Depdiknas. Hlm. 10
[6] Usman Samatowa. 2011. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Indeks. Hlm. 141
[7] Ahmad Susanto. 2013. Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana. Hlm. 167

[8] Asih Widi Wisudawati dan Eka Sulistyowati. 2014. Metodologi Pembelajaran IPA. Jakarta: Bumi Aksara. Hlm. 23

[9] Martiyono. 2012. Perencanaan Pembelajaran. Yogyakarta: Aswajaya Pressindo. Hlm. 293

[10]  Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara. Hlm. 4 
[11]Ahmad Susanto. 2013. Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana. Hlm. 167
[12]  Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standart Kompetensi. Jakarta: Puskur. Dit. PTKSD. Hlm. 27
[13] Sumaji, Soehakso, Mangun Wijaya, dkk. 1998. Pendidikan Sains yang Humanistis. Yogyakarta: Kanisus. Hlm. 35
[14] Asyari, Muslichah. 2006. Penerapan Sains Teknologi Masyarakat Dalam Pembelajaran Sains di SD. Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Ketenagaan. Hlm. 23 
[15] Depdiknas. 2007. Kurikulum Mata pelajaran IPA SD/MI. Jakarta : Ditjen Manajemen Dikdasmen Ditjen Pembinaan TK dan SD. Hlm. 13-14
[16] Permendikbud No. 57/2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah.   
[17] Depdiknas. 2007. Kurikulum Mata pelajaran IPA SD/MI. Jakarta : Ditjen Manajemen Dikdasmen Ditjen Pembinaan TK dan SD. Hlm. 485 
[18] Sri, Sulistyorini. 2007. Model Pembelajaran IPA Sekolah Dasar dan Penerapannya dalam KSTP. Yogyakarta: Tiara Wacana. Hlm. 40
[19] Permendikbud No. 24/2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Menengah, Lampiran 5.

Posting Komentar

 
Top